Rabu, 26 Juni 2019

Dzikir Membawa Rasa Yang Berbeda

Seketika Ramadhan memang sudah berjalan, semua orang dibulan tersebut pastilah menunaikan ibadah puasa yang memang sudah menjadi sebagai rukun islam yang fardhu untuk setiap orang islam.


Maka segenap santri dan pembina pondok bernuansa Tasawuf ini, ingin melaksanakan dzikir dzahar dengan jumlah yang khusus.


Maka di rapatkanlah, serta di sepakatilah hari yang telah di rapatkan, maka semua kesepakatan akan
 dijalankan pada hari yang di tentukan.


Maka tibalah kegiatan berlangsung, dimulai sholat ashar berjama'ah ,menuju waktu magrib seraya menunggu moment berbuka puasa.


Semua para ikhwan dan akhwat, maupun keluarga besar ponpes miftahus sudur memulai berdzikir dengan bersama.



Terdengar Suara LAILLAHAILLALLAH dengan sontak bergema dengan irama hentakan sepatu para prajurit perang yang mempersiapkan barisan.


Dzikirpun mulai berjalan dengan seiringnya waktu, dengan target tembus sebanyak 3000 kali ucapan LAILLAHAILLALLAH tersebut.


Setelah usai, maka semuapun istirahat dan berkumpul, berkumpulpun terbagi beberapa kelompok, sehingga terjadilah beberapa diskusi akan proses rasa.


Ada beberapa ikwan menceritakan soal dzikir yang mereka amalkan barusan, sekitar 3 orang merasaka prasaan yang hampir sama.


Ikwan 1:
"Kalian merasakam tidak saat dzikir barusan, saya merasa bahwa lidah ini berucap setengah sadar, kalimat Allah mulai menghentak ke jantung, serasa badan ini melayang dan mengambang di udara, dalam pejam setengah sadar, seolah-olah diri ini terasa berjalan naik keudara, dan seolah ada yang merasukan energi didalam diri ini, seolah yang berdzikir serasa bukan diri saya, bahkan seolah yang menghentakan nada bukan terasa saya yang meberucap, akan tetapi ada seorang yang menarik tangan, dan mendorong. Saya seolah berada di suatu tempat, yang tinggal duduk manis mengikuti perjalanan"


Ikwan 2 :
" wah benarkah, saya juga bingung, saya juga merasa seolah badan saya juga setengah sadar, kalimat dzikir mulai terasa bertekanan menghentak didaerah titik yang di ajarkan, padahal saya merasa anggukan saya hanya beraturan sewaktu-waktu saja, saya juga mengalamkan seolah dibawa ngebut menumpang dalam barisan berkuda, seolah di bonceng di belakang"


ikwan 3 :
" saya juga merasaka sedemikian, akan tetapi tidak semacam itu, saya tak tersadarkan dalam berdzikir ,terbayang pangersa abah dan senyum abah, setelah itu, pelan-pelan saat itu badan mulai terasa meriyang, merinding dan mengambang seolah diatas pesawat, alunan nada dzikir seperti menarik-narik diri saya naik kesuatu tempat, setelah itu entah siapa lagi terbayang seorang berjubah putih, dengan imamah sederhana dengan senyum, akan tetapi beliau diam saja, tidak memberikan isyarat apapun, setelah itu pelan-pelan nada dzikir mulai memelan, dan saya seolah tidak mengucap lagi akan Dzikir LAILLAHAILLALLAH, akan tetapi hanya dzikir khoffi yang terdengar disuasan perasaan saya, padahal setengah sadar, lafaz LAILLAHAILLALLAH jelas saja di telinga, maka memelan lah dzikir mulai normal, seolah diri saya disuruh turun dan cukup saja".


Seketika suasanapun hening, ada beberapa yang terdiam mendengarkan cerita, dan adapula menanggapikan bahwa mungkin ini yang di maksud bimbingan dalam berdzikir, kita tidak bisa mampu berjalan sendiri, mungkin ini tanda memang benar dzikir ini benar-benar dibimbing dan di perhatikan oleh mursyid kita, tidak mursyid sendiri saja yang turut memperdulikan rasa para santrinya, akan tetapi beliau selalu mengutamakan santrinya untuk selalu dijalankan, dan dibuat senyaman mungkin dalam perjalanannya, sehingga tidak ada yang merasa bahwa perjalanan dzikirnya terganggu dari rasa yang membuat kurang nyaman.


Beruntungnya kita sebagai murid pangersa abah, selain di perhatikan, diperlakukan khusus untuk berdzikir, tidak saja satu murid, akan tetapi semua dilakukan sama rata dengan perhatian beliau.


Catatan kecil : El Faqih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar