Rabu, 26 Juni 2019

Berlatih Sabar Dari Kejadian

Seorang Mahasiswa yang sudah menjadi ikhwan Tariqoh Qodiriyah  Wan Naqsabandiyah Suryalaya,

Ikhwan tersebut mendapatkan tugas dari seorang dosen untuk mengambil sebuah berkas atau mengemban document untuk di serahkan kepada dosen,

al-hasil tugas tersebut mengharuskan beliau untuk turun kekantor dosen tersebut untuk membenahi tujuan mengambil berkas document tersebut.

Dikarenakan amanahnya di terima hampir senja dan mepet dengan tutupnya jam kerja para dosen, Maka ikwan tersebut mengurungkan niatnya.


Suatu ketika, ikhwan tersebut merencanakan di pagi hari esok nya untuk kekampus, menuju sebuah ruang kantor dosen untuk memenuhi hajatnya,

singkat cerita ikhwan tersebut berencana pada pagi hari, dan memang karena ada kepentingan waktu yang mepet,


mungkin ikwan tersebut ingin lebih awal agar apa yang dihajatkan dalam tujuannya cepat di selesaikan sesegera mungkin.


Maka mengatur rencanalah untuk esok hari nya ikwan tersebut sepagi mungkin sampai kekampus dan menuju kantor.


Ke-esokan Harinya, maka Bersedialah ikwan tersebut amat pagi sekali datang kekampus, dan menuju kantor.


Ikwan tersebut lupa akan hari perkuliahan bawasannya pada hari itu tertera sebagai tanggal merah dan libur kerja.


Maka masuklah si ikwan tersebut kelingkungan kampus dan menuju kantor, dengan langsung menuju halaman, ia melewati pak satpam yang menjaga poss pada saat itu seperti aktifitas biasanya pada hari dimana perkuliahan sedang berjalan.


Sesampai di tempat, ia pun keheranan, mengapa kantor jam sepagi ini tutup dan tiada aktifitas sama sekali saat ia saksikan, maka tiba-tiba seorang satpam itupun datang menghampiri dengan tergesa-gesa.


Terjadilah sebuah percakapan antara satpam dan mahasiswa tersebut :

"et's, kamu siapa, main nyelonong saja, kamu mau mencuri ya"

Dengan bengas satpam tersebut curiga dan emosi yang membakar, terlihat raut mukanya memerah

"eh, maaf engga pak, ada apa ya"

"ada apa-ada apa,"

Seketika itu juga satpam itu langsung saja tanpa pikir panjang dan memberikan pukulan kencang dengan genggam gempalnya kearah muka ikhwan tersebut.

Ikhwan tersebutpun kaget, ia pun terpikir terpancing emosi amarah, akan tetapi ia seketika di hatinya bersuara, jika hal tersebut dibantah dengan kekerasan pula maka tejadilah perkelahian.

"Doss", terjadilah pukulan yang memar mendarat di pipi sang ikwan, sang ikwanpun merintih kesakitan, dalam hatinya berkata " seandainya saya menghelak atau menagkis pukulan tersebut, pastilah terjadi perkelahian dan akan berproses merepotkan".

Seketika itu, datang seorang dosen melihat kejadian itu, iapun langsung menghampiri dan melerai, dengan sigap saja sang dosen menghentikan.

Lalu sang dosenpun memberitahu bahwa ikwan tersebut adalah seorang mahasiswa, seketika saja sang satpam diam, dan kembali keposnya, dengan perasaan geram yang tiba-tiba menjadi reda, serta ia menyatakan bahwa hal tersebut hanya kesalah pahaman.


Setelah itu ikhwan tersebutpun kekantor meneruskan apa yang ingin ia lakukan, seketika itu dengan muka yang memar.

Setelah usai maka ikwan tersebut segera kekantor poss menemui satpam, satpam tersebut dan di hampiri, serta ikhwan tersebut memohon maaf atas kehilafannya saat ia masuk perkuliahan di hari libur dan memang keadaan lupa pada hari tersebut, dan ia pun menyelipkan jabatan tangan nya dengan uang sakunya, sebagai permintaan maafnya, dengan alasan ini adalah uang rokok untuk pak satpam.


Seketika itu pak satpam terlihat terdiam dan merasa iba serta tidak nyaman, dan satpam itupun mengaku bahwa ia baru saja bekerja ditempat kampus ini, serta ikwan tersebut memaklumkan saja atas kesalah pahaman yang terjadi.

Setelah hal tersebut, ikwanpun kembali pulang dengan berkas document nya , dan beberapa pekan    terlewatlah moment tersebut, perkuliahan mulai aktif, ikwan tersebutpun mencari-cari si satpam, mengapa tidak terlihat di sekitar kampus, dan tempat satpam tersebut di isi dengan orang yang berbeda, setelah di telusuri sang satpam yang pernah memukulnya, sudah mengundurkan diri dan berhenti dari pekerja'annya, serta mengusulkan untuk bekerja di lain.


Ikwan tersebutpun paham, tentang bagaimana sang mursyid membimbing, saat ada masalah genting dan tidak bisa di hindari, hati ini tanpa tersadarkan bisa terasa dingin sendiri dan paham akan situasi, sehingga apapun yang di hadapi, beliau selalu membimbing dengan cara beliau sendiri.


Pada saat hal insiden terjadi, emosipun mulai reda dan dengan sendirinya khoffi bergetak kencang, serta meredam emosi tersebut sehingga suasana bisa di kendalikan.


Catatan kecil : El Faqih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar