Memahami situasi untuk kebaikan merupakan jalan kita dalam memberikan manfaat untuk orang lain.
Setelah itu bagaimana jika sudah berada di forum yang selalu menjalin silaturahmi dan saling memberikan keindahan dalam menasehati dan memberikan semangat.
Diantaranya, memberikan arah jalan keilmuan yang baik, menanamkan pola pikir yang positif, memberikan pengalaman dan keilmuan yang berguna dan bermanfaat yang berdampak untuk memproses merubah pribadi, pola pikir dan bahkan jalan kehiduapan sendiri, memikirkan apa yang di tindak itu sudah baik dan memberikan pengabdian kepada kehidupan kita dan orang lain, saling menanamkan prasaan menghargai dan menanggapi suatu yang bermanfaat, demi kerukunan dan kedamaian.
Perlulah apa yang kita lakukan kita teliti maupun analisis terlebih dahulu, kita semakin hari semakin dewasa atas umurnya, maka pola pikirpun dan penjiwaanpun perlu dilatih sedemikian rupa.
Kita sudah diberikan dzikir khusus dan amanah yang besar, tinggal kita mau bagaimana menanggapinya, jadikanlah amalan khusus tersebut membuahkan kpribadian, pikiran dan perasaan, kaitkan semuanya denga argument allah swt, jangan kita jadikan alasan jika kesalahan beragument kepada allah swt, itu hanya penipuan pemikiran dan nafsu saja, untuk menggambar-gambar agar kita dapat berjalan di atas kebenaran, padahal faktanya kita bukan menjadi pribadi yang hakiki, malah kita seolah menentang akan kebenaran, tidak lain dan bukan hanya hasutan pikiran yang kusut dan mengambang.
Tidak lain dan tidak bukan, hanya membuat suasana yang tadinya sudah baik menjadi menurun karena krater satu insan, kehidupan bukan hanya untuk ajang cari sensasi, tapi merupakan perjuangan dalam perjalanan.
Baru sedikit saja kita di berikan ujian, sempoyongan dan gundah, banyak ulah lagi, apakah kita lupa bahwa kita memang sudah di berikan kebaikan dari allah swt untuk proses perlatihan pendewasaan kita, kalo tidak begitu , ya bisa jadi kapan sadarnya.
Maka tanamkan benar atas dzikir , bukan ajang hanya mencari ini loh saya termasuk orang yang memiliki perguruan dzikir yang sudah besar, tapi faktanya sifat masih mengambang dalam kejahilan yang di berantas oleh diri sendiri, dan buahnya pun hanya dongeng belaka.
Maka pikirkan jika kita ingin bermanfaat, maka berilah manfaat orang lain, bukan untuk yang membuat perkaraya yang tersiakan.
Catatan kecil: el Faqih
Rabu, 26 Juni 2019
Pelatihan Pengamalan Ibadah
Pondok pesantren Miftahus Sudur, merupakan pondok pesantren yang berbaur di masyarakat dan mengabdi kepada masyarakat, dengan bekal ilmu dan amal ibadah, semuanya di turunkan langsung kepada masyarakat dalam berdakwah.
Bagaiaman bisa terjadi, semua santri selain dibekali amaliyah khusus , mereka turut berpatisipasi pula dalam penyiaran agama islam melalui dakwahnya, para penggeraknya bukan saja para al usdtadz maupun jama'ah yang terkait , para guru dan tokoh agama ternama saja, selain itu para santripun begitu juga, bukan sebagai santri yang belajar saja yang fokus dalam keilmuan dan mentela'ah keilmuan yang pada ruangan saja, akan tetapi di ajarkan juga bagaimana cara bermasyarakat, dan berkeluarga bersama tetangga sekitar maupun tetangga nan jauh.
Selain itu, mereka di ajarkan bagaimana membentuk kemandirian dari dirinya, membuang egoisme dan nafsu untuk menjadi pemimpin yang tidak pamrih saat memberi manfaat.
Dididik mulai dari berdagang, membangun kebutuhan sehari-hari, melakukan kegiatan ibu rumah tangga, dilatih bekerja sama, di ajarkan beraksistektur dalam memperindah apapun, baik terkait sebagai tukang bangunan maupun arsitektur lainnya.
Selain itu juga mereka diberikan arahan agar selalu bersama dan berpikir positif dalam segala hal, penanaman upaya untuk menjauhi persengketaan saudara mapun lingkungan dan menanamkan apabila terjadi suatu permasalahan, maka permasalahan tersebut melainkan hanya KESALAH PAHAMAN SEMATA, mentela'ah kejadian untuk pengalaman dan menetralkan emosi dalam bentuk apapun.
Selain itu juga para santri dilatih menjadi seorang insan yang lembut, sebagai seorang yang mampu ahli dalam beribadah dan mampu dalam ahli membersihkan hati dan pola pikirnya.
Memang dalam pelatihan sangat berat, akan tetapi mereka masih mau dalam turut partisipasi di sebuah ruang kegiatan tersebut, Alasannya simpel saja MENYELAMATKAN KELUARGA DAN UMAT UNTUK KENAL ALLAH DAN ROSULULLAH SAW.
Selain itu, bukan saja mereka di bekali ilmu moderen dan klasik, baik dari kitab kuning, kitab putih, kitab abdzad ilmiah, akan tetapi ilmu yang modern sekarangpun di bekalkan , diantaranya melalui perkuliahan, melalui organisasi, melalui kebahasaan, teknologi informasi, bahkan keranah masryakatpun di berikan arahan.
Apabila kegiatan berjalan, mereka dari pukul 02.00 wib, sudah saling berebut kamar mandi dan saling berlomba membangunkan, setelah itu mereka melakukan kegiatan sholat malam, ada yang berjama'ah dan ada yang masing-masing, tidak lupa pula dari jam tersebut ada yang menambah sholat sunnah ,baik sholat tasbih, taubat, sholat multak, sholat witir.
Selain itu ada juga yang ramai membaca beberapa hizib maupun ratib, yang paling unggul adalah membaca dzikir dzhar, sering terdengar sampai tidak putusnya dari malam sampai di pagi harinya.
Hal tersebut pernah pula di lakukan bersama al ustd dan guru, serta pengemban amanah dzikir TQN Suryalaya, di sana beliau langsung terjun memberikan bimbingan, usai sholat tahajud, kalimat LAILLAHAILALLAH terdengar dari malam sampai isroq, dzikir tersebut tidak terputus, selalu menyambung setelah jeda hal lain.
Usai subuh, senantiasa melaksanakan khotaman bersama setelah melaksanakan dzikir yang semestinya, jika matahari mulai terbit, merekapun menghentikan dzikirnya dan melaksanakan sholat sunnah, diantaranya, SHOLAT SUNNAH ISROQ, ISTIADAH DAN ISTIQOROH, setelah itu mereka bergotong royong untuk membersihkan pondok majlis, di sisi lain ,bisa pula mereka mengadakan tadarus bersama dan hafalan didalam mushola nan mungil dan kecil itu.
Saat matahari mulai bersinar, tidak lupa mereka mengerjakan sholat dhuha dan sholat kifaratul bauli, beberapa raka'at yang mereka senangi, usai tersebut,ada yang membaca al qur'an ,sholawat, dan amaliyah yang lainnya, atau juga pergi keluar untuk melaksanakan kuliah yang ada.
Mereka selalu di latih sholat sunah sebelum dan sesudah sholat, setelah itu, pendidikan imam mengimami selalu berganti dan berjadwal, bahkan sampai menjadi pemimpin dzikirpun pasti berjadwal.
Menempuh senja merek Bersiap melaksanakan sholat magrib, usai melakukan kegiatan sholat semestinya baik yang fardhu maupun yang sunnah, tidak lupa juga mereka membina para mualaf dan mengajar al qur'an kepada anak-anak dan tetangga setempat sampai waktu menjelang isya, usai sholat isya mereka melanjutkan dua raka'at sholat sunnah dif'il bala, begitulah kegiatan setiap harinya yang di benahi.
Pernah pula beberapa waktu jama'ah menginap dipondok tersebut, bahkan melakukan diskusi bersama, baik dari santri, jama'ah maupun tokoh agama, bahkan diskusi sering kali sampai larut malam, lebih kuat diskusi keagama'an maupun rentang kehidupan.
Dan anehnya lagi, mata selalu melek, jika malam menjelang, semua selalu bertukar keilmuan dan pengalaman, bahkan seorang guru maupun ustd sekalipun selalu bertukar wawasan keilmuan.
Begitulah kegiatan yang telah dilaksanakan, dan masih banyak lagi kegiatan yang dilakukan selain dari pada hal tersebut, al hasil pondok dzikir yang masih muda ini merupakan sebagai ajang pencetak generasi insan yang hakiki, yang dimana selalu belajar dan bersama dalam berlomba menuju kebaikan.
Catatan kecil : El Faqih
Bagaiaman bisa terjadi, semua santri selain dibekali amaliyah khusus , mereka turut berpatisipasi pula dalam penyiaran agama islam melalui dakwahnya, para penggeraknya bukan saja para al usdtadz maupun jama'ah yang terkait , para guru dan tokoh agama ternama saja, selain itu para santripun begitu juga, bukan sebagai santri yang belajar saja yang fokus dalam keilmuan dan mentela'ah keilmuan yang pada ruangan saja, akan tetapi di ajarkan juga bagaimana cara bermasyarakat, dan berkeluarga bersama tetangga sekitar maupun tetangga nan jauh.
Selain itu, mereka di ajarkan bagaimana membentuk kemandirian dari dirinya, membuang egoisme dan nafsu untuk menjadi pemimpin yang tidak pamrih saat memberi manfaat.
Dididik mulai dari berdagang, membangun kebutuhan sehari-hari, melakukan kegiatan ibu rumah tangga, dilatih bekerja sama, di ajarkan beraksistektur dalam memperindah apapun, baik terkait sebagai tukang bangunan maupun arsitektur lainnya.
Selain itu juga mereka diberikan arahan agar selalu bersama dan berpikir positif dalam segala hal, penanaman upaya untuk menjauhi persengketaan saudara mapun lingkungan dan menanamkan apabila terjadi suatu permasalahan, maka permasalahan tersebut melainkan hanya KESALAH PAHAMAN SEMATA, mentela'ah kejadian untuk pengalaman dan menetralkan emosi dalam bentuk apapun.
Selain itu juga para santri dilatih menjadi seorang insan yang lembut, sebagai seorang yang mampu ahli dalam beribadah dan mampu dalam ahli membersihkan hati dan pola pikirnya.
Memang dalam pelatihan sangat berat, akan tetapi mereka masih mau dalam turut partisipasi di sebuah ruang kegiatan tersebut, Alasannya simpel saja MENYELAMATKAN KELUARGA DAN UMAT UNTUK KENAL ALLAH DAN ROSULULLAH SAW.
Selain itu, bukan saja mereka di bekali ilmu moderen dan klasik, baik dari kitab kuning, kitab putih, kitab abdzad ilmiah, akan tetapi ilmu yang modern sekarangpun di bekalkan , diantaranya melalui perkuliahan, melalui organisasi, melalui kebahasaan, teknologi informasi, bahkan keranah masryakatpun di berikan arahan.
Apabila kegiatan berjalan, mereka dari pukul 02.00 wib, sudah saling berebut kamar mandi dan saling berlomba membangunkan, setelah itu mereka melakukan kegiatan sholat malam, ada yang berjama'ah dan ada yang masing-masing, tidak lupa pula dari jam tersebut ada yang menambah sholat sunnah ,baik sholat tasbih, taubat, sholat multak, sholat witir.
Selain itu ada juga yang ramai membaca beberapa hizib maupun ratib, yang paling unggul adalah membaca dzikir dzhar, sering terdengar sampai tidak putusnya dari malam sampai di pagi harinya.
Hal tersebut pernah pula di lakukan bersama al ustd dan guru, serta pengemban amanah dzikir TQN Suryalaya, di sana beliau langsung terjun memberikan bimbingan, usai sholat tahajud, kalimat LAILLAHAILALLAH terdengar dari malam sampai isroq, dzikir tersebut tidak terputus, selalu menyambung setelah jeda hal lain.
Usai subuh, senantiasa melaksanakan khotaman bersama setelah melaksanakan dzikir yang semestinya, jika matahari mulai terbit, merekapun menghentikan dzikirnya dan melaksanakan sholat sunnah, diantaranya, SHOLAT SUNNAH ISROQ, ISTIADAH DAN ISTIQOROH, setelah itu mereka bergotong royong untuk membersihkan pondok majlis, di sisi lain ,bisa pula mereka mengadakan tadarus bersama dan hafalan didalam mushola nan mungil dan kecil itu.
Saat matahari mulai bersinar, tidak lupa mereka mengerjakan sholat dhuha dan sholat kifaratul bauli, beberapa raka'at yang mereka senangi, usai tersebut,ada yang membaca al qur'an ,sholawat, dan amaliyah yang lainnya, atau juga pergi keluar untuk melaksanakan kuliah yang ada.
Mereka selalu di latih sholat sunah sebelum dan sesudah sholat, setelah itu, pendidikan imam mengimami selalu berganti dan berjadwal, bahkan sampai menjadi pemimpin dzikirpun pasti berjadwal.
Menempuh senja merek Bersiap melaksanakan sholat magrib, usai melakukan kegiatan sholat semestinya baik yang fardhu maupun yang sunnah, tidak lupa juga mereka membina para mualaf dan mengajar al qur'an kepada anak-anak dan tetangga setempat sampai waktu menjelang isya, usai sholat isya mereka melanjutkan dua raka'at sholat sunnah dif'il bala, begitulah kegiatan setiap harinya yang di benahi.
Pernah pula beberapa waktu jama'ah menginap dipondok tersebut, bahkan melakukan diskusi bersama, baik dari santri, jama'ah maupun tokoh agama, bahkan diskusi sering kali sampai larut malam, lebih kuat diskusi keagama'an maupun rentang kehidupan.
Dan anehnya lagi, mata selalu melek, jika malam menjelang, semua selalu bertukar keilmuan dan pengalaman, bahkan seorang guru maupun ustd sekalipun selalu bertukar wawasan keilmuan.
Begitulah kegiatan yang telah dilaksanakan, dan masih banyak lagi kegiatan yang dilakukan selain dari pada hal tersebut, al hasil pondok dzikir yang masih muda ini merupakan sebagai ajang pencetak generasi insan yang hakiki, yang dimana selalu belajar dan bersama dalam berlomba menuju kebaikan.
Catatan kecil : El Faqih
Berlatih Sabar Dari Kejadian
Seorang Mahasiswa yang sudah menjadi ikhwan Tariqoh Qodiriyah Wan Naqsabandiyah Suryalaya,
Ikhwan tersebut mendapatkan tugas dari seorang dosen untuk mengambil sebuah berkas atau mengemban document untuk di serahkan kepada dosen,
al-hasil tugas tersebut mengharuskan beliau untuk turun kekantor dosen tersebut untuk membenahi tujuan mengambil berkas document tersebut.
Dikarenakan amanahnya di terima hampir senja dan mepet dengan tutupnya jam kerja para dosen, Maka ikwan tersebut mengurungkan niatnya.
Suatu ketika, ikhwan tersebut merencanakan di pagi hari esok nya untuk kekampus, menuju sebuah ruang kantor dosen untuk memenuhi hajatnya,
singkat cerita ikhwan tersebut berencana pada pagi hari, dan memang karena ada kepentingan waktu yang mepet,
mungkin ikwan tersebut ingin lebih awal agar apa yang dihajatkan dalam tujuannya cepat di selesaikan sesegera mungkin.
Maka mengatur rencanalah untuk esok hari nya ikwan tersebut sepagi mungkin sampai kekampus dan menuju kantor.
Ke-esokan Harinya, maka Bersedialah ikwan tersebut amat pagi sekali datang kekampus, dan menuju kantor.
Ikwan tersebut lupa akan hari perkuliahan bawasannya pada hari itu tertera sebagai tanggal merah dan libur kerja.
Maka masuklah si ikwan tersebut kelingkungan kampus dan menuju kantor, dengan langsung menuju halaman, ia melewati pak satpam yang menjaga poss pada saat itu seperti aktifitas biasanya pada hari dimana perkuliahan sedang berjalan.
Sesampai di tempat, ia pun keheranan, mengapa kantor jam sepagi ini tutup dan tiada aktifitas sama sekali saat ia saksikan, maka tiba-tiba seorang satpam itupun datang menghampiri dengan tergesa-gesa.
Terjadilah sebuah percakapan antara satpam dan mahasiswa tersebut :
"et's, kamu siapa, main nyelonong saja, kamu mau mencuri ya"
Dengan bengas satpam tersebut curiga dan emosi yang membakar, terlihat raut mukanya memerah
"eh, maaf engga pak, ada apa ya"
"ada apa-ada apa,"
Seketika itu juga satpam itu langsung saja tanpa pikir panjang dan memberikan pukulan kencang dengan genggam gempalnya kearah muka ikhwan tersebut.
Ikhwan tersebutpun kaget, ia pun terpikir terpancing emosi amarah, akan tetapi ia seketika di hatinya bersuara, jika hal tersebut dibantah dengan kekerasan pula maka tejadilah perkelahian.
"Doss", terjadilah pukulan yang memar mendarat di pipi sang ikwan, sang ikwanpun merintih kesakitan, dalam hatinya berkata " seandainya saya menghelak atau menagkis pukulan tersebut, pastilah terjadi perkelahian dan akan berproses merepotkan".
Seketika itu, datang seorang dosen melihat kejadian itu, iapun langsung menghampiri dan melerai, dengan sigap saja sang dosen menghentikan.
Lalu sang dosenpun memberitahu bahwa ikwan tersebut adalah seorang mahasiswa, seketika saja sang satpam diam, dan kembali keposnya, dengan perasaan geram yang tiba-tiba menjadi reda, serta ia menyatakan bahwa hal tersebut hanya kesalah pahaman.
Setelah itu ikhwan tersebutpun kekantor meneruskan apa yang ingin ia lakukan, seketika itu dengan muka yang memar.
Setelah usai maka ikwan tersebut segera kekantor poss menemui satpam, satpam tersebut dan di hampiri, serta ikhwan tersebut memohon maaf atas kehilafannya saat ia masuk perkuliahan di hari libur dan memang keadaan lupa pada hari tersebut, dan ia pun menyelipkan jabatan tangan nya dengan uang sakunya, sebagai permintaan maafnya, dengan alasan ini adalah uang rokok untuk pak satpam.
Seketika itu pak satpam terlihat terdiam dan merasa iba serta tidak nyaman, dan satpam itupun mengaku bahwa ia baru saja bekerja ditempat kampus ini, serta ikwan tersebut memaklumkan saja atas kesalah pahaman yang terjadi.
Setelah hal tersebut, ikwanpun kembali pulang dengan berkas document nya , dan beberapa pekan terlewatlah moment tersebut, perkuliahan mulai aktif, ikwan tersebutpun mencari-cari si satpam, mengapa tidak terlihat di sekitar kampus, dan tempat satpam tersebut di isi dengan orang yang berbeda, setelah di telusuri sang satpam yang pernah memukulnya, sudah mengundurkan diri dan berhenti dari pekerja'annya, serta mengusulkan untuk bekerja di lain.
Ikwan tersebutpun paham, tentang bagaimana sang mursyid membimbing, saat ada masalah genting dan tidak bisa di hindari, hati ini tanpa tersadarkan bisa terasa dingin sendiri dan paham akan situasi, sehingga apapun yang di hadapi, beliau selalu membimbing dengan cara beliau sendiri.
Pada saat hal insiden terjadi, emosipun mulai reda dan dengan sendirinya khoffi bergetak kencang, serta meredam emosi tersebut sehingga suasana bisa di kendalikan.
Catatan kecil : El Faqih
Ikhwan tersebut mendapatkan tugas dari seorang dosen untuk mengambil sebuah berkas atau mengemban document untuk di serahkan kepada dosen,
al-hasil tugas tersebut mengharuskan beliau untuk turun kekantor dosen tersebut untuk membenahi tujuan mengambil berkas document tersebut.
Dikarenakan amanahnya di terima hampir senja dan mepet dengan tutupnya jam kerja para dosen, Maka ikwan tersebut mengurungkan niatnya.
Suatu ketika, ikhwan tersebut merencanakan di pagi hari esok nya untuk kekampus, menuju sebuah ruang kantor dosen untuk memenuhi hajatnya,
singkat cerita ikhwan tersebut berencana pada pagi hari, dan memang karena ada kepentingan waktu yang mepet,
mungkin ikwan tersebut ingin lebih awal agar apa yang dihajatkan dalam tujuannya cepat di selesaikan sesegera mungkin.
Maka mengatur rencanalah untuk esok hari nya ikwan tersebut sepagi mungkin sampai kekampus dan menuju kantor.
Ke-esokan Harinya, maka Bersedialah ikwan tersebut amat pagi sekali datang kekampus, dan menuju kantor.
Ikwan tersebut lupa akan hari perkuliahan bawasannya pada hari itu tertera sebagai tanggal merah dan libur kerja.
Maka masuklah si ikwan tersebut kelingkungan kampus dan menuju kantor, dengan langsung menuju halaman, ia melewati pak satpam yang menjaga poss pada saat itu seperti aktifitas biasanya pada hari dimana perkuliahan sedang berjalan.
Sesampai di tempat, ia pun keheranan, mengapa kantor jam sepagi ini tutup dan tiada aktifitas sama sekali saat ia saksikan, maka tiba-tiba seorang satpam itupun datang menghampiri dengan tergesa-gesa.
Terjadilah sebuah percakapan antara satpam dan mahasiswa tersebut :
"et's, kamu siapa, main nyelonong saja, kamu mau mencuri ya"
Dengan bengas satpam tersebut curiga dan emosi yang membakar, terlihat raut mukanya memerah
"eh, maaf engga pak, ada apa ya"
"ada apa-ada apa,"
Seketika itu juga satpam itu langsung saja tanpa pikir panjang dan memberikan pukulan kencang dengan genggam gempalnya kearah muka ikhwan tersebut.
Ikhwan tersebutpun kaget, ia pun terpikir terpancing emosi amarah, akan tetapi ia seketika di hatinya bersuara, jika hal tersebut dibantah dengan kekerasan pula maka tejadilah perkelahian.
"Doss", terjadilah pukulan yang memar mendarat di pipi sang ikwan, sang ikwanpun merintih kesakitan, dalam hatinya berkata " seandainya saya menghelak atau menagkis pukulan tersebut, pastilah terjadi perkelahian dan akan berproses merepotkan".
Seketika itu, datang seorang dosen melihat kejadian itu, iapun langsung menghampiri dan melerai, dengan sigap saja sang dosen menghentikan.
Lalu sang dosenpun memberitahu bahwa ikwan tersebut adalah seorang mahasiswa, seketika saja sang satpam diam, dan kembali keposnya, dengan perasaan geram yang tiba-tiba menjadi reda, serta ia menyatakan bahwa hal tersebut hanya kesalah pahaman.
Setelah itu ikhwan tersebutpun kekantor meneruskan apa yang ingin ia lakukan, seketika itu dengan muka yang memar.
Setelah usai maka ikwan tersebut segera kekantor poss menemui satpam, satpam tersebut dan di hampiri, serta ikhwan tersebut memohon maaf atas kehilafannya saat ia masuk perkuliahan di hari libur dan memang keadaan lupa pada hari tersebut, dan ia pun menyelipkan jabatan tangan nya dengan uang sakunya, sebagai permintaan maafnya, dengan alasan ini adalah uang rokok untuk pak satpam.
Seketika itu pak satpam terlihat terdiam dan merasa iba serta tidak nyaman, dan satpam itupun mengaku bahwa ia baru saja bekerja ditempat kampus ini, serta ikwan tersebut memaklumkan saja atas kesalah pahaman yang terjadi.
Setelah hal tersebut, ikwanpun kembali pulang dengan berkas document nya , dan beberapa pekan terlewatlah moment tersebut, perkuliahan mulai aktif, ikwan tersebutpun mencari-cari si satpam, mengapa tidak terlihat di sekitar kampus, dan tempat satpam tersebut di isi dengan orang yang berbeda, setelah di telusuri sang satpam yang pernah memukulnya, sudah mengundurkan diri dan berhenti dari pekerja'annya, serta mengusulkan untuk bekerja di lain.
Ikwan tersebutpun paham, tentang bagaimana sang mursyid membimbing, saat ada masalah genting dan tidak bisa di hindari, hati ini tanpa tersadarkan bisa terasa dingin sendiri dan paham akan situasi, sehingga apapun yang di hadapi, beliau selalu membimbing dengan cara beliau sendiri.
Pada saat hal insiden terjadi, emosipun mulai reda dan dengan sendirinya khoffi bergetak kencang, serta meredam emosi tersebut sehingga suasana bisa di kendalikan.
Catatan kecil : El Faqih
Dzikir Membawa Rasa Yang Berbeda
Seketika Ramadhan memang sudah berjalan, semua orang dibulan tersebut pastilah menunaikan ibadah puasa yang memang sudah menjadi sebagai rukun islam yang fardhu untuk setiap orang islam.
Maka segenap santri dan pembina pondok bernuansa Tasawuf ini, ingin melaksanakan dzikir dzahar dengan jumlah yang khusus.
Maka di rapatkanlah, serta di sepakatilah hari yang telah di rapatkan, maka semua kesepakatan akan
dijalankan pada hari yang di tentukan.
Maka tibalah kegiatan berlangsung, dimulai sholat ashar berjama'ah ,menuju waktu magrib seraya menunggu moment berbuka puasa.
Semua para ikhwan dan akhwat, maupun keluarga besar ponpes miftahus sudur memulai berdzikir dengan bersama.
Terdengar Suara LAILLAHAILLALLAH dengan sontak bergema dengan irama hentakan sepatu para prajurit perang yang mempersiapkan barisan.
Dzikirpun mulai berjalan dengan seiringnya waktu, dengan target tembus sebanyak 3000 kali ucapan LAILLAHAILLALLAH tersebut.
Setelah usai, maka semuapun istirahat dan berkumpul, berkumpulpun terbagi beberapa kelompok, sehingga terjadilah beberapa diskusi akan proses rasa.
Ada beberapa ikwan menceritakan soal dzikir yang mereka amalkan barusan, sekitar 3 orang merasaka prasaan yang hampir sama.
Ikwan 1:
"Kalian merasakam tidak saat dzikir barusan, saya merasa bahwa lidah ini berucap setengah sadar, kalimat Allah mulai menghentak ke jantung, serasa badan ini melayang dan mengambang di udara, dalam pejam setengah sadar, seolah-olah diri ini terasa berjalan naik keudara, dan seolah ada yang merasukan energi didalam diri ini, seolah yang berdzikir serasa bukan diri saya, bahkan seolah yang menghentakan nada bukan terasa saya yang meberucap, akan tetapi ada seorang yang menarik tangan, dan mendorong. Saya seolah berada di suatu tempat, yang tinggal duduk manis mengikuti perjalanan"
Ikwan 2 :
" wah benarkah, saya juga bingung, saya juga merasa seolah badan saya juga setengah sadar, kalimat dzikir mulai terasa bertekanan menghentak didaerah titik yang di ajarkan, padahal saya merasa anggukan saya hanya beraturan sewaktu-waktu saja, saya juga mengalamkan seolah dibawa ngebut menumpang dalam barisan berkuda, seolah di bonceng di belakang"
ikwan 3 :
" saya juga merasaka sedemikian, akan tetapi tidak semacam itu, saya tak tersadarkan dalam berdzikir ,terbayang pangersa abah dan senyum abah, setelah itu, pelan-pelan saat itu badan mulai terasa meriyang, merinding dan mengambang seolah diatas pesawat, alunan nada dzikir seperti menarik-narik diri saya naik kesuatu tempat, setelah itu entah siapa lagi terbayang seorang berjubah putih, dengan imamah sederhana dengan senyum, akan tetapi beliau diam saja, tidak memberikan isyarat apapun, setelah itu pelan-pelan nada dzikir mulai memelan, dan saya seolah tidak mengucap lagi akan Dzikir LAILLAHAILLALLAH, akan tetapi hanya dzikir khoffi yang terdengar disuasan perasaan saya, padahal setengah sadar, lafaz LAILLAHAILLALLAH jelas saja di telinga, maka memelan lah dzikir mulai normal, seolah diri saya disuruh turun dan cukup saja".
Seketika suasanapun hening, ada beberapa yang terdiam mendengarkan cerita, dan adapula menanggapikan bahwa mungkin ini yang di maksud bimbingan dalam berdzikir, kita tidak bisa mampu berjalan sendiri, mungkin ini tanda memang benar dzikir ini benar-benar dibimbing dan di perhatikan oleh mursyid kita, tidak mursyid sendiri saja yang turut memperdulikan rasa para santrinya, akan tetapi beliau selalu mengutamakan santrinya untuk selalu dijalankan, dan dibuat senyaman mungkin dalam perjalanannya, sehingga tidak ada yang merasa bahwa perjalanan dzikirnya terganggu dari rasa yang membuat kurang nyaman.
Beruntungnya kita sebagai murid pangersa abah, selain di perhatikan, diperlakukan khusus untuk berdzikir, tidak saja satu murid, akan tetapi semua dilakukan sama rata dengan perhatian beliau.
Catatan kecil : El Faqih
Maka segenap santri dan pembina pondok bernuansa Tasawuf ini, ingin melaksanakan dzikir dzahar dengan jumlah yang khusus.
Maka di rapatkanlah, serta di sepakatilah hari yang telah di rapatkan, maka semua kesepakatan akan
dijalankan pada hari yang di tentukan.
Maka tibalah kegiatan berlangsung, dimulai sholat ashar berjama'ah ,menuju waktu magrib seraya menunggu moment berbuka puasa.
Semua para ikhwan dan akhwat, maupun keluarga besar ponpes miftahus sudur memulai berdzikir dengan bersama.
Terdengar Suara LAILLAHAILLALLAH dengan sontak bergema dengan irama hentakan sepatu para prajurit perang yang mempersiapkan barisan.
Dzikirpun mulai berjalan dengan seiringnya waktu, dengan target tembus sebanyak 3000 kali ucapan LAILLAHAILLALLAH tersebut.
Setelah usai, maka semuapun istirahat dan berkumpul, berkumpulpun terbagi beberapa kelompok, sehingga terjadilah beberapa diskusi akan proses rasa.
Ada beberapa ikwan menceritakan soal dzikir yang mereka amalkan barusan, sekitar 3 orang merasaka prasaan yang hampir sama.
Ikwan 1:
"Kalian merasakam tidak saat dzikir barusan, saya merasa bahwa lidah ini berucap setengah sadar, kalimat Allah mulai menghentak ke jantung, serasa badan ini melayang dan mengambang di udara, dalam pejam setengah sadar, seolah-olah diri ini terasa berjalan naik keudara, dan seolah ada yang merasukan energi didalam diri ini, seolah yang berdzikir serasa bukan diri saya, bahkan seolah yang menghentakan nada bukan terasa saya yang meberucap, akan tetapi ada seorang yang menarik tangan, dan mendorong. Saya seolah berada di suatu tempat, yang tinggal duduk manis mengikuti perjalanan"
Ikwan 2 :
" wah benarkah, saya juga bingung, saya juga merasa seolah badan saya juga setengah sadar, kalimat dzikir mulai terasa bertekanan menghentak didaerah titik yang di ajarkan, padahal saya merasa anggukan saya hanya beraturan sewaktu-waktu saja, saya juga mengalamkan seolah dibawa ngebut menumpang dalam barisan berkuda, seolah di bonceng di belakang"
ikwan 3 :
" saya juga merasaka sedemikian, akan tetapi tidak semacam itu, saya tak tersadarkan dalam berdzikir ,terbayang pangersa abah dan senyum abah, setelah itu, pelan-pelan saat itu badan mulai terasa meriyang, merinding dan mengambang seolah diatas pesawat, alunan nada dzikir seperti menarik-narik diri saya naik kesuatu tempat, setelah itu entah siapa lagi terbayang seorang berjubah putih, dengan imamah sederhana dengan senyum, akan tetapi beliau diam saja, tidak memberikan isyarat apapun, setelah itu pelan-pelan nada dzikir mulai memelan, dan saya seolah tidak mengucap lagi akan Dzikir LAILLAHAILLALLAH, akan tetapi hanya dzikir khoffi yang terdengar disuasan perasaan saya, padahal setengah sadar, lafaz LAILLAHAILLALLAH jelas saja di telinga, maka memelan lah dzikir mulai normal, seolah diri saya disuruh turun dan cukup saja".
Seketika suasanapun hening, ada beberapa yang terdiam mendengarkan cerita, dan adapula menanggapikan bahwa mungkin ini yang di maksud bimbingan dalam berdzikir, kita tidak bisa mampu berjalan sendiri, mungkin ini tanda memang benar dzikir ini benar-benar dibimbing dan di perhatikan oleh mursyid kita, tidak mursyid sendiri saja yang turut memperdulikan rasa para santrinya, akan tetapi beliau selalu mengutamakan santrinya untuk selalu dijalankan, dan dibuat senyaman mungkin dalam perjalanannya, sehingga tidak ada yang merasa bahwa perjalanan dzikirnya terganggu dari rasa yang membuat kurang nyaman.
Beruntungnya kita sebagai murid pangersa abah, selain di perhatikan, diperlakukan khusus untuk berdzikir, tidak saja satu murid, akan tetapi semua dilakukan sama rata dengan perhatian beliau.
Catatan kecil : El Faqih
Nasehat Ikhwan Kepada Santrinya
Bukan saja didalam majlis pondok untuk saling berbenah, masyarakat seperti jama'ah majlispun turut mengajarkan dan membimbing santri untuk memberikan arahan untuk mencetak bekal kehidupan untuk seorang insan yang patut di tiru.
Tak jauh dari acara, kini mulai datanglah di mana hari rutinan 3 bulan sekali untuk mengikuti amaliyah Sulthonu Aulia Syekh Abdul Qodir Al Jilani Q.S.
Pada saat itu seorang santri terlihat lagi mempersiapkan beberapa keperluan terkait untuk kelangsungan acara, sekitar beberapa waktu lagi akan di laksanakanlah amaliyah rutinan tersebut, di samping itu beberapa santri sedang fokus membaca kitab khotaman uqudul juman, sambil menunggu acara di mulai.
Terlihat beberapa jama'ah berjalan hilir mudik untuk mengambil tempat dan membawa beberapa bekal kosumsi untuk hidangan yang di perlukan.
Seketika acara mulai siap, datang seorang ikwan yang menjabat tangan santri satu persatu, santri satu demi satu di datangin dan menaruh senyum.
Tak terasa waktu beberapa menit lagi hampir akan dimulailah acara.
Ketika santri mulai usai dalam beberapa tugasnya, maka berkumpullah para santri dalam satu kelompok, lalu tiba-tiba ikhwan tersebut datang dan menceritakan tata cara pengalaman beliau berdzikir serta beliau juga menasehati.
" Wahai santriku sekalian, saya ini tiada alim dan tiada paham akan agama, tidak seperti kalian yang memang belajar,
tapi ingatlah, dzikir kita ini adalah dzikir yang luar biasa, janganlah kalian tinggalkan
serta istiqomahkanlah, karena inilah bekal kalian dalam sibuk dan berkehidupan,serta bekal kalian berjalan di muka bumi.
Wahai santriku sekalian, janganlah dulu kalian berdzikir tergesa-gesa, dan lafazkan kalimat *Laillahaillallah* dengan baik dan hayatilah,
latih terus, hentakan terus kepada titik-titik yang akan membuat perubahan pada diri kita,
jika belum khusyu, kuatkan dan kerjakan terus, selain itu lafazkan khoffi saat lisan berucapkan dzikir,
karena semua itu tidaklah mudah, perlu latihan.
Saya ini sudah lama mengikuti pengemban amanah, saya melihat beliau selalu tepat sasaran dan nadanya selalu akurat menggetarkan,
perjalanan beliau santai dan tidak ada sama sekali dalam ucapannya tergesa-gesa.
Beliau selalu berdzikir tidak kurang sehari dalam dzikirnya 10.000,
bukan dengan nada seperti kita hampir bercepat atas kehendak kita,
tapi kecepatan tersebut telah dirasakan dengan sendirinya, dengan sendirinya akan nikmat dan menaikan kecepatan dengan sendirinya.
Maka santriku sekalian amalkan amalan ini sebaik-baiknya, maka kalian akan merasakan kehidupan itu seperti lautan yang tenang,
ada ombak kita tidak akan goyah, malah mengikuti arusnya yang tenang, kalian akan selalu ingat akan keadaan,
baik di atas maupun di bawah, hati kalian akan lembut dan lembut, sehingga nanti kalian menjadi sorotan keindahan dalam tata bersifat dan berprilaku. Maka genjot terus,
jika malas, cobalah paksakan, karena saya sudah merasakan sendiri, bukan cahaya di muka kita yang kita cari, bukan pula karomah mursyid yang kita tuntut, tapi hati ini memang luar duga'an,
kalian akan paham bagaimana sabar, iklas, dan tawakal, bukan hanya kalian tahu di ilmu saja,
akan tetapi kalian merasakan serta paham, oh begini toh apa yang di ungkap, coba kalian rasakan sebelum kalian berdzikir dan talqin, perbedaannya sesudah dzikir dan talqin,
kenikmatan itu mulai muncul ,dan diri ini benar merasakan hidup".
Tak berapa lama acarapun mulai dan manaqibpun turut berjalan.
Begitulah keadaan pembimbingan, tidak saja para sesepuh, guru dan ahli dalam keilmuan lainnya, para jama'ahpun turut mengajarkan dan mendidik,
mereka memperhatikan seperti anak mereka sendiri, setiap apa yang mereka temukan dari santrinya, tak luput mereka menasehati, dan memberikan pengalaman proses dzikir mereka yang di rasakan.
Bertapa indahnya kalam mereka dan lembutnya bahasa mereka, tidak sontak dengan kajian yang keras dan tata kata yang tegas,
tetapi lembut dan ungkapan yang keluar dari hati nuraninya.
Maka para santripun mulai bergegas mengambil tugasnya untuk kelangsungan acara, dengan hati yang menyentuh dan suasana yang hening.
Bukan itu saja, ikhwan pun mengajarkan bagaimana ahlak terpuji didalam dirinya untuk di amalkan, beliau menyalami dan menasehati, tanpa merasa beliau yang mengajarkan, akan tetapi beliau yang langsung praktik dan memberikan contoh agar santri mampu bersifat sedemikian.
Catatan kecil : El Faqih
Tak jauh dari acara, kini mulai datanglah di mana hari rutinan 3 bulan sekali untuk mengikuti amaliyah Sulthonu Aulia Syekh Abdul Qodir Al Jilani Q.S.
Pada saat itu seorang santri terlihat lagi mempersiapkan beberapa keperluan terkait untuk kelangsungan acara, sekitar beberapa waktu lagi akan di laksanakanlah amaliyah rutinan tersebut, di samping itu beberapa santri sedang fokus membaca kitab khotaman uqudul juman, sambil menunggu acara di mulai.
Terlihat beberapa jama'ah berjalan hilir mudik untuk mengambil tempat dan membawa beberapa bekal kosumsi untuk hidangan yang di perlukan.
Seketika acara mulai siap, datang seorang ikwan yang menjabat tangan santri satu persatu, santri satu demi satu di datangin dan menaruh senyum.
Tak terasa waktu beberapa menit lagi hampir akan dimulailah acara.
Ketika santri mulai usai dalam beberapa tugasnya, maka berkumpullah para santri dalam satu kelompok, lalu tiba-tiba ikhwan tersebut datang dan menceritakan tata cara pengalaman beliau berdzikir serta beliau juga menasehati.
" Wahai santriku sekalian, saya ini tiada alim dan tiada paham akan agama, tidak seperti kalian yang memang belajar,
tapi ingatlah, dzikir kita ini adalah dzikir yang luar biasa, janganlah kalian tinggalkan
serta istiqomahkanlah, karena inilah bekal kalian dalam sibuk dan berkehidupan,serta bekal kalian berjalan di muka bumi.
Wahai santriku sekalian, janganlah dulu kalian berdzikir tergesa-gesa, dan lafazkan kalimat *Laillahaillallah* dengan baik dan hayatilah,
latih terus, hentakan terus kepada titik-titik yang akan membuat perubahan pada diri kita,
jika belum khusyu, kuatkan dan kerjakan terus, selain itu lafazkan khoffi saat lisan berucapkan dzikir,
karena semua itu tidaklah mudah, perlu latihan.
Saya ini sudah lama mengikuti pengemban amanah, saya melihat beliau selalu tepat sasaran dan nadanya selalu akurat menggetarkan,
perjalanan beliau santai dan tidak ada sama sekali dalam ucapannya tergesa-gesa.
Beliau selalu berdzikir tidak kurang sehari dalam dzikirnya 10.000,
bukan dengan nada seperti kita hampir bercepat atas kehendak kita,
tapi kecepatan tersebut telah dirasakan dengan sendirinya, dengan sendirinya akan nikmat dan menaikan kecepatan dengan sendirinya.
Maka santriku sekalian amalkan amalan ini sebaik-baiknya, maka kalian akan merasakan kehidupan itu seperti lautan yang tenang,
ada ombak kita tidak akan goyah, malah mengikuti arusnya yang tenang, kalian akan selalu ingat akan keadaan,
baik di atas maupun di bawah, hati kalian akan lembut dan lembut, sehingga nanti kalian menjadi sorotan keindahan dalam tata bersifat dan berprilaku. Maka genjot terus,
jika malas, cobalah paksakan, karena saya sudah merasakan sendiri, bukan cahaya di muka kita yang kita cari, bukan pula karomah mursyid yang kita tuntut, tapi hati ini memang luar duga'an,
kalian akan paham bagaimana sabar, iklas, dan tawakal, bukan hanya kalian tahu di ilmu saja,
akan tetapi kalian merasakan serta paham, oh begini toh apa yang di ungkap, coba kalian rasakan sebelum kalian berdzikir dan talqin, perbedaannya sesudah dzikir dan talqin,
kenikmatan itu mulai muncul ,dan diri ini benar merasakan hidup".
Tak berapa lama acarapun mulai dan manaqibpun turut berjalan.
Begitulah keadaan pembimbingan, tidak saja para sesepuh, guru dan ahli dalam keilmuan lainnya, para jama'ahpun turut mengajarkan dan mendidik,
mereka memperhatikan seperti anak mereka sendiri, setiap apa yang mereka temukan dari santrinya, tak luput mereka menasehati, dan memberikan pengalaman proses dzikir mereka yang di rasakan.
Bertapa indahnya kalam mereka dan lembutnya bahasa mereka, tidak sontak dengan kajian yang keras dan tata kata yang tegas,
tetapi lembut dan ungkapan yang keluar dari hati nuraninya.
Maka para santripun mulai bergegas mengambil tugasnya untuk kelangsungan acara, dengan hati yang menyentuh dan suasana yang hening.
Bukan itu saja, ikhwan pun mengajarkan bagaimana ahlak terpuji didalam dirinya untuk di amalkan, beliau menyalami dan menasehati, tanpa merasa beliau yang mengajarkan, akan tetapi beliau yang langsung praktik dan memberikan contoh agar santri mampu bersifat sedemikian.
Catatan kecil : El Faqih
Suasana Di Lingkungan Pondok Dzikir Miftahus Sudur
Setiap Pagi sabtu, disekitar lingkungan miftahus sudur selalu mengumandangkan dzikir laillahaillallah sampai waktu isroq datang.
Suaranya selalu mengayun-ayun dan menjelma keseluruh udara dan menggetarkan cahaya sinar matahari, matahir di pagi itu selalu di sambut para santri.
Bukan saja dzikir, sampai isroq, akan tetapi 3 paket sholat sunnah pun turut di kerjakan secara berjama'ah.
Sholat isti'adah, sholat isroq dan sholat istiqoroh, bukan di pagi sabtu saja, akan tetapi setiap pagi akan di sambut tiga paket ibadah tersebut.
Selain itu, menuju pagi, kegiatan rutinitas biasanya para santri mempersiapkan diri untuk belajar dan melakukan rutinitas setiap hari.
Ada yang gemar mengumandangkan tilawah , dimana selalu bergema di setiap saat, lagu dan nada nan indah selalu menghiasi keheningan.
Begitulah untaian pagi hari menuju mentari hangat.
Catatan kecil: El Faqih
Suaranya selalu mengayun-ayun dan menjelma keseluruh udara dan menggetarkan cahaya sinar matahari, matahir di pagi itu selalu di sambut para santri.
Bukan saja dzikir, sampai isroq, akan tetapi 3 paket sholat sunnah pun turut di kerjakan secara berjama'ah.
Sholat isti'adah, sholat isroq dan sholat istiqoroh, bukan di pagi sabtu saja, akan tetapi setiap pagi akan di sambut tiga paket ibadah tersebut.
Selain itu, menuju pagi, kegiatan rutinitas biasanya para santri mempersiapkan diri untuk belajar dan melakukan rutinitas setiap hari.
Ada yang gemar mengumandangkan tilawah , dimana selalu bergema di setiap saat, lagu dan nada nan indah selalu menghiasi keheningan.
Begitulah untaian pagi hari menuju mentari hangat.
Catatan kecil: El Faqih
Langganan:
Postingan (Atom)